Senin, 26 Januari 2009

Memaknai kematian

Jauh-jauh hari,saya minta izin ke suami andai tertuduh pelaku bom Bali I, Amrozi dkk minus Ali Imron jadi di eksekusi mati, saya ingin
takziah (melayat ke rumah duka). Tadinya ingin ke Tenggulung tapi terlalu jauh, ya sudah ke Lopang Gede saja ke kediaman Imam Samudera di Serang - Banten. Andai Allah izinkan, komplit sudah pengalaman hidup saya, karena waktu kecil cita -cita merasakan aura duka dari terhukum mati Kusni Kasdut tidak kesampaian.


oleh: Ritapunto


Jauh-jauh hari,saya minta izin ke suami andai tertuduh pelaku bom Bali I, Amrozi dkk minus Ali Imron jadi di eksekusi mati, saya ingin
takziah (melayat ke rumah duka). Tadinya ingin ke Tenggulung tapi terlalu jauh, ya sudah ke Lopang Gede saja ke kediaman Imam Samudera di Serang - Banten. Andai Allah izinkan, komplit sudah pengalaman hidup saya, karena waktu kecil cita -cita merasakan aura duka dari terhukum mati Kusni Kasdut tidak kesampaian.
Saya ingin mengambil hikmah dari ketangguhan para perempuan yang mengalami musibah berat, melihat tenangnya para ibunda mereka, saya menyimpan kekaguman luar biasa. Dalam ajaran islam--di haramkan menangisi jenazah apalagi sampai meraung - raung, hadistnya sangat kuat dan para sahabat , keluarga serta isteri Rasulullah SAW memberi contoh tidak menangis apalagi meraung ketika melepaskan jenazah nabi akhirul zaman ini.
Sungguh sesuatu yang pastinya sulit untuk dilakukan, padahal menangis adalah kodrati dari rasa duka cita. Saya saja, diam-diam menitikkan air mata ketika harus kehilangan bapak mertua tercinta, walau saya lakukan di dalam kamar. Kesedihan itu sulit di bendung, seluruh keluarga besar nyaris tidak menangis sampai jenazah benar-benar sudah damai di liang lahatnya. Terasa sekali kehilangan bapak mertua, yang di akhir hayatnya masih mengajak saya bertukar pikiran tentang "Tuhan". Cinta menyatukan kami dalam perbedaan, bapak sesepuh kebatinan dan saya seorang muslim bersinergi dalam keluarga besar yang harmonis. Sekalipun kita memaknai kematian dengan visi yang berbeda.
Dalam keyakinan saya, mati atau berpulang ke hadirat Illahi, adalah the next life yang wajib dijalani seorang muslim. Sejak dari alam ruh saat kita diciptakan dan ditiupkan pada segumpal darah yang kemudian menjadi janin manusia, berlanjut kepada alam dunia sejak bayi dilahirkan, selanjutnya ada peristiwa kematian yang berarti menujualam barzakh dalam gelapnya kubur. Alam barzakh kadang dimaknai negatif dan dibuat rumor - rumor yang menyeramkan, mungkin karena alam ini merupakan persinggahan sementara dari alam dunia menuju alam akherat yaitu alam kekal selamanya hidup yang
sesungguhnya dijalani. Kunci sukses kehidupan di akherat bagi seorang muslim ada di alam dunia.
Lalu bagaimana pandangan bapak mertua saya, menurut beliau kematian adalah akhir dari penciptaanNya. Manusia mati sama seperti semua kehidupan yang mati--menjadi nol, begitu seterusnya. Tapi ruh yang baik kemungkinan akan mendapatkan pengecualian yaitu ber-reinkarnasi. Konsep ini perpaduan antara paham atheisme dan Buddhism.
Jelas sangat bertentangan dengan paham saya yang meyakini bahwa perasaan seolah-olah kita merasa pernah mengalami kejadian atau mengenal seseorang yang baru kita kenal adalah kerja ruh yang menyimpannya dalam Lauh Mahfuz (Al-Qur'an memuat tentang Lauh Mahfuz yang dalam terjemahannya tiada kata yang bisa jadi padanannya, dimana semua kejadian alam semesta ada dalam Lauh Mahfuz)
Perbedaan visi ini, tidak berarti saya berjarak dengan beliau. Dimata saya beliau insan yang cemerlang , sampai usianya 82 tahun masih menuliskan catatan olah batinnya untuk diwariskan kepada pengikutnya dan sekalipun saya bukan pengikutnya tapi saya bangga menjadi mantunya, sayalah mantu yang paling dicarinya 3 hari menjelang ajalnya dan dimintai pendapat tentang,
"Siapakah dua sosok, yang sejak 3 hari lalu menunggui saya?" tanya beliau.
"Sosok pertama adalah keikhlasan jiwa bapak, yang kedua adalah kesabaran hati bapak. Keduanya akan menerangi jalan bapak menuju Tuhan," itu jawaban saya.
Bapak menanyakan apakah jawaban itu sama dengan keyakinan hidup saya sebagai muslim, jawab saya "tidak". Dalam ajaran saya bisa jadi mereka malaikat maut, tetapi bapak boleh memaknai kehadiran mereka sesuai keyakinan bapak. Dua hari kemudian bapak berpulang ke pencipta-Nya, damai dan tenang.


0 komentar:

Posting Komentar

tulis kritik, saran, ataupun makian anda...!!! ^_^


 

Home | Kampus | My Friendster | Posts RSS | Comments RSS | Blog Clasic

kumpulan artikel unik © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu