Senin, 26 Januari 2009

Gara-Gara Hp

Di dusun Sewu Lugu, yang baru saja terkena imbas teknologi informasi sedang keranjingan handphone. Maklum, namanya juga dusun terpencil di Kutoarjo, desanya sepi penuh dengan papringan (pohon bambu) yang tiap malam mengeluarkan bunyi deritan khasnya, jadi kehadiran HP yang mestinya sejak 10 th lalu ikut menyemarakkan dunia telekomunikasi, baru nge'tren' sekarang ini.


Di dusun Sewu Lugu, yang baru saja terkena imbas teknologi informasi sedang keranjingan handphone. Maklum, namanya juga dusun terpencil di Kutoarjo, desanya sepi penuh dengan papringan (pohon bambu) yang tiap malam mengeluarkan bunyi deritan khasnya, jadi kehadiran HP yang mestinya sejak 10 th lalu ikut menyemarakkan dunia telekomunikasi, baru nge'tren' sekarang ini.
Seorang yang semula tukang bangunan di Jakarta sana, telah kembali pulang setelah sekian lama merantau. Pastinya pulang dengan membawa segudang ‘kecanggihan' yang akan diperkenalkannya pada desa asalnya. Jaketnya yang entah berapa lama tidak dicuci, ditempeli aneka emblem Nazi, tanpa tahu artinya, kupingnya ditindik sampai tiga, sambil tak lupa menyumpalkan handsfree yang terhubung dengan handphone di pinggangnya. Entah ada yang telepon atau tidak, menurut orang-orang yang berpapasan Wakidan selalu nyerocos seperti orang kesambet, ngomong sendiri sambil sesekali tertawa ngakak.
"Halah Dan... gayamu ini lho, sudah seperti orang gak doyan nasi" kata Tarmono, rekan sepermainannya yang kini nyambi jadi kuli panggul di Pasar Kliwon.
"Lho, sapa bilang? Gaya seperti ini bukan apa-apa kalau di kota...! Sekarang ini Hape penting buat komunikasi" jawab Wakidan sambil melepas handsfree yang dari tadi pagi belum dicopot lantaran takut mati gaya.
"Wong komunikasi, tinggal mbengok aja kok repot, atau tinggal ngomong, ndak bayar. Lagian, kalau gayamu seperti itu ya ndak cocok tho Dan, wong pakai pit (sepeda) pancal kok kuping disumpal. Kalau tumpakanmu itu mobil, atau minimal motor bebek, masih pantes..." kata Tarmono sambil mengusir lalat yang nempel di hidungnya yang jauh dari bangir (mancung)
"Kalau kita seperti itu terus ndak bakal maju-maju Tar, bisa ketinggalan, opo kamu mau selamanya seperti katak dalam tempurung ?" Wakidanpun tak mau kalah menggunakan pengibaratan yang dia dapatkan sewaktu SD dulu.
Tak urung, Tarmonopun mulai kemakan kata-kata Wakidan, hingga pada akhir perjumpaan, idealisme Tarmono sebagai pemuda kampung mulai mengendur.
"Memangnya, berapa tho, harga handphone seperti punyamu ?"
Alhasil, meski harus merelakan kambingnya yang baru beranak senilai 900 ribu, Tarmonopun sudah bisa bergaya ala orang kota. Bahkan beberapa warga berhasil diprovokasinya. Kini, mereka jadi jarang ketemu muka, bahkan untuk berbicara ketika mereka nyawah (di sawah) dan angon (menggembala) kambing atau kerbaupun pun mereka lakukan dengan bertelepon. Katanya sih ngirit tenaga, maklum jarak antar sawah yang satu ke sawah yang lain lumayan, atau jarak tegalan yang satu dan yang lain lumayan jauh. Jadi sambil duduk-duduk di bawah pohon sengon ataupun di punggung kerbau mereka asyik telepon satu sama lain dan tertawa cekakakan sampai membuat binatang gembalaan nyaris tersedak waktu merumput. Maklum juga, namanya juga demenyar (demen nek anyar= seneng ketika masih punya barang baru).
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan Tarmonopun kian merasakan krisis akibat memiliki handphone. Kebunnya terbengkalai karena dana untuk beli pupuk terpakai untuk beli pulsa hanphone, kambingnya mati satu karena tak diperhatikan lagi jadwal makannya lantaran keasyikan ngobrol dengan temannya, dan juga dipecat dari kuli panggul di pasar Kliwon lantaran sering datang kesiangan akibat keasyikan ngobrol "free talk" di jam 12 malam sampai subuh dengan Waridah, pujaan hatinya yang juga telah memiliki handphone serupa. Sampai suatu hari, Tarmonopun muntah-muntah, perutnya seperti balon yang digembungkan, kepalanya kliyengan seperti habis minum ginseng oplosan. Menurut Pak dokter di puskesmas, itu lantaran Tarmono kebanyakan begadang, makan nggak teratur hingga menderita masuk angina akut.
Tarmonopun akhirnya sadar, tak selamanya kecanggihan teknologi berakibat baik untuknya. Lalu kepada teman-temannya dikirimlah SMS yang berbunyi "Mulai besok, AQ gak mw pake HP ini, AQ masih ingin ngurusi kambing-kambingku yang kemarin terlantar karena gak kuperhatikan, mau ngurusi kebon lagi yang kemarin sempat layu karena uang beli pupuk habis untuk beli pulsa, dan mau meneruskan profesi di pasar Kliwon yang kemarin terhenti karena AQ bangun kesiangan. Harap maklum. Tq.
Kepada pujaan hatinya, Waridah, diapun berSMS " Nduk, aku gak mw pake HP lagi, merepotkan. Mulai sekarang AQ akan ngapel aja ke tempatmu, gak usah ngobrol malam-malam. Uangnya mw tak kumpulin, buat bekal kita kawin nanti"
Tarmonopun tersenyum puas. Esok hari dia berjanji ke kota untuk menjual HP sekennya yang entah akan laku berapa dan mulai menyongsong hari baru penuh harapan. Tanpa HP tentunya.


"Wikimu.com"

0 komentar:

Posting Komentar

tulis kritik, saran, ataupun makian anda...!!! ^_^


 

Home | Kampus | My Friendster | Posts RSS | Comments RSS | Blog Clasic

kumpulan artikel unik © Template Design by Herro | Publisher : Templatemu