Wanita itu Pernah bersamanya
Aku terpaku di depan studio seni itu. Gayatri art. Sejenak aku ragu untuk memasukinya. Tapi tekadku sudah bulat. Aku harus menemui wanita itu. Harus!
“Cari siapa..?” sambut sesosok wanita, kira-kira tiga tahun lebih tua dariku
“Gayatri…” jawabku
“Ayo masuk,” sambutnya wanita itu mengulurkan tangan “Aku Gayatri, ada perlu dengan saya ?”
Aku tergagap sejenak “Oh ya… Aku Nella”
Gayatri mengernyitkan dahi, lalu berkata ragu “Nella, istri Seno ya?
Aku terpaku di depan studio seni itu. Gayatri art. Sejenak aku ragu untuk memasukinya. Tapi tekadku sudah bulat. Aku harus menemui wanita itu. Harus!
“Cari siapa..?” sambut sesosok wanita, kira-kira tiga tahun lebih tua dariku
“Gayatri…” jawabku
“Ayo masuk,” sambutnya wanita itu mengulurkan tangan “Aku Gayatri, ada perlu dengan saya ?”
Aku tergagap sejenak “Oh ya… Aku Nella”
Gayatri mengernyitkan dahi, lalu berkata ragu “Nella, istri Seno ya?
“Ya, kalau anda tak keberatan aku boleh berbincang sejenak?” tanyaku.
Wanita di hadapanku terkekeh, lalu di sela tawanya, dia bilang “Jangan sebut aku Anda, panggil aku Aya…”
Aku ikut tertawa kaku. Sejenak aku perhatikan wajahnya. Tak tampak make up sedikitpun pada wajah pulosnya. Bibirnya agak kehitaman akibat pengaruh panas rokok yang mampir ke bibirnya, giginya kekuningan sumbangan dari kopi dan nikotin yang tampaknya seringkali dikonsumsinya. Aku bergidik membayangkan ketika Seno, suamiku mengencani wanita ini.
“Nella, kamu baik-baik saja kan? Sebetulnya, kamu mencari Seno kesini? Kalau iya, sudah seminggu ini dia tak pernah ke Galeriku” jawabnya ringan sambil menyulut sebatang rokok seusai memberikanku segelas air dingin.
“Sejauh apa hubunganmu dengan Seno?" tanyaku mulai mengarah ke tujuanku.
“Teman.Teman baik. Kami sering bercerita hidup kami masing-masing, keinginan kami, kebosanan kami…” jawabnya menerawang.
“Hanya itu ?” tanyaku menyelidik.
“Tampaknya kamu sudah tahu. Ok, begini. Awalnya hanya seperti itu namun lama kelamaan tanpa adanya paksaan kami menyukai bentuk hubungan yang lain” kata Gayatri gamblang sambil mengepulkan asap tebal dari bibirnya.
Aku terpekur. Bagaimana mungkin wanita ini demikian entengnya menceritakan affairnya dengan suamiku kepadaku. Bagaimana mungkin dia menceritakan ini seolah tanpa beban.
“Kenapa Nella, heran ? “Ya.. ya.. aku maklum. Aku pikir kamu berhak marah, bahkan mengamuk kalau kamu mau. Tapi aku yakin kamu wanita terhormat Nella. Setidaknya, itu yang kudengar dari cerita Seno. Aku memang sebetulnya tak berhak mencampuri hidup kalian. Tapi aku sedah terlanjur masuk dalam hidup Seno. Aku menyukainya. Dan aku tak bermaksud merebut Seno darimu. Sebisa mungkin aku tak main hati dalam hal ini. Jadi, Seno tetap jadi milikmu meski raganya pernah menemaniku…”
Setengah tak percaya, aku terpekur, memandangi seisi ruangan dengan perasaan tak menentu. Di sudut ruangan, tepat berhadapan denganku sebuah lukisan seorang wanita sedang tertawa lebar seolah ikut menertawakan penderitaanku. Apa yang sebenarnya Seno cari dari wanita ini. Kebebasannya? Pengertiannya? Kemampuannya mengimbangi setiap cerita Seno? Kebebasannya mengartikan sebuah hubungan?
Aku masih tak percaya ketika suatu hari, tanpa sengaja aku menemukan beberapa bill hotel di saku baju Seno. Apa ini? Seno dan wanita itu? Sex after lunch? Seno seorang lelaki yang sempurna di mataku. Tak pernah sekalipun dia mangkir dari waktu rutin ketika dia harus sampai di rumah. Maka, aku sangat terpukul ketika mengetahui Seno berlaku curang di belakangku. Apa salahku? Apa kekuranganku?
“Nella, please.. aku yang salah.. maafkan aku…” kata Seno pias ketika kutunjukkan semua bukti padanya “Kamu boleh melakukan apapun untuk menghukumku” Aku masih bergeming, dan meninggalkan dia dengan rasa sesak yang sedemikian membuncah.
“Nella?” Gayatri membuyarkan lamunanku.
“Oh.. “ aku cepat-cepat menyambar tisu yang disodorkan Gayatri padaku.
“Maaf, aku tak bermaksud menyakitimu, aku tahu bila dibandingkan denganmu aku tak pantas mendapatkan apa yang kamu dapatkan. Aku ini hanya wanita ‘pengembara’. Hidupku tak pernah menetap. Aku hanya sementara di sini, Nella. Genap dua tahun minggu depan dan sembilan bulan hubunganku dengan Seno. Kamu wanita sempurna, bahkan saking sempurnanya kamu hampir-hampir Seno tak dapat menandingimu, dia kadang merasa tak pantas untukmu. Dia merasa hidupnya hanya di bawah bayang-bayangmu. Sampai akhirnya dia mengenalku dan terjadilah semua” lanjutnya .
Aku seperti terpuruk ke dasar lubang yang paling dalam. Sisi kewanitaanku merasa amat sangat terlecehkan dengan perbuatan Seno dan wanita ini. Namun aku tak dapat berbuat apa-apa saat ini. Mengumpat ? Toh semua sudah terlanjur terjadi, dan mustahil bagiku untuk mengembalikan putaran waktu. Mendamprat wanita ini ? Buat apa? Aku tak ingin konfrontasi apapun dengan wanita ini. Aku hanya ingin tahu kenapa suamiku nekat mengencaninya, dan wanita seperti apa yang dikencani suami tercintaku, dan aku, sudah mendapatkan luncuran jawaban yang membuatku tak berdaya.
Selama ini, aku berusaha menjadi yang terbaik bagi Seno, karirku melesat bak anak panah, namun aku tak pernah mengecilkan arti Seno di rumah, meski karir Seno tak segemilang karirku. Aku memang tak pernah meminta uang atau menuntut apapun dari Seno, karena toh, aku sudah bisa mendapatkannya dari kerja kerasku. Aku juga berusaha mendidik anak-anakku dengan baik, menemani mereka di sela waktu luangku yang semakin hari semakin sempit saja. Aku mampu mengatur rumah tanggaku sedemikian rupa. Rumah yang tiap hari bersih, anak-anak yang sehat, dan juga penampilankupun rasanya tak pernah mengecewakan Seno.
Namun satu hal yang terlambat kusadari, Seno adalah seorang lelaki, lelaki yang membutuhkan pengakuan lebih dari sekadar perhatian. Lelaki yang senantiasa ingin dibutuhkan oleh wanita terdekatnya, lelaki yang ingin memecahkan setiap masalah yang kuutarakan, atau setidaknya mendengarkan. Dan selama ini, kuabaikan keinginan itu.
Aku menolak kala Seno berusaha mengantarkanku ke kantor atau menjemputku, karena kupikir, aku bisa pulang pergi sendiri tanpa harus bergantung padanya. Aku tak mengatakan apapun ketika terlibat masalah dalam pekerjaan, pun ketika Seno menanyakan, karena toh kerjaanku nggak ada hubungannya dengan Seno, dan kupikir aku cukup cerdas untuk menyelesaikan segala masalahku.
Aku juga tak pernah menanyakan kemana Seno seharian, ada masalah apa di kantornya. Yang kutahu Seno baik-baik saja , percakapan kami dirumah hanya sebatas perkembangan kedua anak kami, bagaimana dengan pendidikannya atau sekadar mengkomentari acara-acara di televisi.
“Pulanglah Nella, temui suamimu…” Gayatri menyentakkan lamunanku.
“Aya… sekali dalam hidupku, kumohon, jauhi kami, lupakan Seno, kami butuh waktu untuk mereset hidup kami” kataku kelu.
Gayatri tersenyum, "Jangan kuatir Aya, semua sudah kupikirkan, tak ada emosi apapun antara aku dan Seno. Dan minggu depan, kupastikan kau tak melihat galeri ini berdiri di sini”.
Aku beranjak dari tempat dudukku. Kupeluk Gayatri dan kuucapkan terima kasih karena dia sudah menjanjikan hal yang baik untuk hubunganku dan Seno. Kupeluk wanita yang pernah menemani suamiku dengan selaksa rasa yang berkecamuk. Setidaknya, aku telah memaafkan dia dan menyadari kesalahanku. Setidaknya, kehadirannya telah membukakan mata hatiku, bahwa meski aku merasa telah menjadi yang sempurna dalam banyak hal, namun aku mengabaikan arti kesempurnaan yang yang diinginkan Seno.
(Cerpen: Kusriati)

Artikel









0 komentar:
Posting Komentar
tulis kritik, saran, ataupun makian anda...!!! ^_^